My IELSP’s Essay: Personal Life and Family

The Dunphys: My Fave Family in The Whole World

Seperti yang telah saya janjikan sebelumnya, here I am posting a piece of my mind about me and mi familia, a lil bit messy coz it was written in no time and done when I was in the middle of doing something, it’s nothing but purely poured from my deepest heart. I wuv my Dad, Mom, and Bro. Without a further ado, this is it:

In this box please tell us about your personal life and your family. THIS STATEMENT IS AN IMPORTANT PART OF YOUR APPLICATION – Please use additional papers if necessary

 

Dear Sir/Madam,

It is with deep gratitude I write this application letter to thank you for your willing to notice about my letter. First of all, I would like to introduce myself. My name is Wildan Syamsudin Fahmy. I am in my junior year of Medical Faculty of Universitas Sebelas Maret Surakarta.

When it comes to self-descripting, I honestly being confused about how the way I have to tell people about it. But, let me try. I am a people person. I do like to meet new people and experience things with them. I am always interested to mingle and have good chatters with the others. I will be around my friends because from peers like them I get many stories and experiences. I do appreciate the togetherness value.

My friends said that I am way too mature for people in my ages. I can say maybe it is true. A person who appreciates the others, open-minded, and sees things widely is the best ideal person I want to be. Maybe according to my ideal image of the person I want to be above, sometimes my peers see I am way mature to people in my ages. I am a learning freak. When there is a new thing, I get curious. When I fail, I will get up. When I win, I will do more.

Sometimes life gets hard and I do need shoulders to lean on, when it comes to this, nothing’s better than having my family on my side. We live in a small city where life is so peace and great. My Dad is the man of the house who makes lifes and my Mom is the best mother ever. They do teach me and my brother the value of life: living together in peacefulness, appreciating others’s works and helping people. We live fairly well and are very grateful of having the best family everyone could possibly have. My brother is my best friend. We share a lot: the clothes, the books, and stories. In our childhood, we did go to every place together, he would back me up in games, and I would give my a piece of my sandwich. Yeah, the funny tricks of time, I do really miss those days. Simple things we had in life often were just simple, but we need to hold to that to pass the rainy days of future. I do love my family.

Thank you again for noticing my application.

Yours sincerely,

Wildan Syamsudin Fahmy

“The Long Winding Road to be An IELSP Grantee Cohort 9 Part II: Hell, No Me Gusta!)”

Hell, No Me Gusta” adalah kalimatdalam bahasa Spanyol yang diucapkan oleh si sexy-naughty-bitchy Santana Lopez dalam salah satu serial favorit saya, Glee, dimana kalimat tersebut berarti “HELL, I HATE IT!!!!!“, dan apa emangnya hubungannya dengan postingan kali ini? Simak saja yak 🙂

5 Februari adalah hari interview IELSP. Saya dan temen saya, Sofina, dapat jatah di Universitas Sanata Dharma, Jogjakarta. Kebetulan saat itu masih pulang kampung, bingung mau berangkatnya gimana, motoran ya terlalu jauh dan nanggung kalau harus langsung balik lagi ke rumah (red: Adek saya sebenarnya kuliah di Yogyakarta, tapi lagi ujian tuh, takutnya ganggu kalau saya menginap), kereta api? Jelas gak ada. Bbus? Ewww, busnya gak comfy – kotor, luammmaaaaaaa pula ngetemnya, haha. Melihat kebingungan saya akhirnya Ibu ajakin Bapak buat nganterin – sebenarnya gak enak sih, tapi kata Ibu sekalian jenguk Adek gitu, hehe. Ya udah, kita berangkat tanggal 5, pagi jam 3, dimana saya sudah nggak bisa tidur pada malam sebelumnya – di tenggorokan kesangkut duri ikan lele dari dinner semalam, sakit – sudah diminumi banyak-banyak, nelan nasi, nelan pisang, tetep stuck dahndak bisa tidur, akhirnya dengan galau saya kerjain tugas dan menyiapkan jawaban dari apa-apa yang kira-kira akan ditanyakan oleh penguji. Saya sempatkan membaca dan mengingat kembali essai-essai yang telah saya buat sebelumnya karena berdasarkan nasihat yang saya baca dari blog Bang Haeril Ilham sebagai alumni IELSP University of Ohio, pertanyaan penguji ndak akan jauh-jauh dari essai kamu dan biodata kamu, so absolutely needs to be reviewed once more. Juga jawablah dengan jujur apapun pertanyaan sesuai dengan keadaanmu. Tak lupa saya mempersiapkan pakaian terbaik saya – navy-blue-shirt, black-trousers, and grey-sneakers – paduan yang tepat, terkesan sopan dan rapi dan yang terpenting tidak menghilangkan identitas diri dan menimbulkan kenyamanan dalam memakainya. Saya persiapkan tas saya dengan sisir, cologne, dan permen mint – bukan berniat jadi flamboyan – sekadar memastikan kalau saya nantinya tidak terterima pastinya bukan karena pengujinya sebel karena saya tampak kusut, tidak rapi, dan bau – berikutnya mengenai tips2 wawancara IELSP (dan mungkin juga berlaku bagi kebanyakan wawancara beasiswa, silakan visit blog-nya Bang Haeril yak, klikdisini!

Jam 3 kita berangkat, sebelumnya Ibu dah bangun jam 2-an, menyiapkan air hangat buat mandi, teh anget, dan bekal. Wow, what a Mom, I love you Mom!. Badanku agak nggak enak, meriang mungkin, sepanjang perjalanan aku mengeluhkan kalau AC mobil disetel terlalu dingin, sudah diminimkan tapi aku tetap berkeluh, Bapak pun sampai sebel karena ndak mungkin untuk mematikan AC  – hawanya dingin dan berembun. Aku coba tidur tapi mata tak kunjung terpejam, badan ndak enak – mungkin gara-gara tidak tidur semalaman (red: perlu diketahui bahwasanya alangkah baiknya ketika kamu akan wawancara dikeesokan harinya, cukupkanlah tidurmu, biar fit gitu, so dont try this at home :). Masuk waktu Subuh, Bapak menepi  mencari masjid untuk ibadah Subuh. Selesai Subuh, aku berdoa memohon agar dimudahkan hari ini. Amin. Argh, ternyata duri yang nyangkut dileher makin stuck aja, sekilas aku teringat SOP untuk mengeluarkan benda asing yang tersangkut di tenggorokan yang kudapatkan dari pelajaran Skills Lab di kampus – nekad, aku cuci bersih tangan ku, get my fingers on lalu masukkan ke faring – wow, faringku halus yak, kenyel-kenyel gitu, mesti warnanya merah muda nan mulus gitu – haha, kanan kiri, atas bawah, aku menyapu seluruh laring, tapi si duri yang nancep tetep ndak ketemu, frustasi aku obok-obok faring-laringku – lama gitu kan gak ketemu-ketemu, aku cabut tanganku, argh, ya sudahlah – eh, eh, ehm kog aneh yah, rasanya enakan, padahal durinya gak ketemu, ketelen mungkin haha, terimakasih Ya Allah, rahmatmu sungguh menentramkan.

Perjalanan berlanjut dengan tetap saya berkeluh mengenai keadaan tubuh saya, niatnya mau baca ulang essai-essai saya, tapi apa daya, pusingnya terlalu kuat, kontraksi perutnya juga (red: karena saya rangsang refleks muntahnya dengan memasukkan jemari saya tadi) – saya coba tidur lagi dan berhasil..zzzzzzzzzzzzzzz

Pukul 07.30, ternyata sudah masuk Jogja, freaking out saya bilang ke Bapak buat nambah kecepatan karena saya bakalan wawancara jam 9 dan belum sempet rapih-rapih. Sampai kost adek, segera mandi, pakai baju rapi, wangi, tak lupa sarapan dan off to Sanata Dharma.

Sesampai disana saya bertemu dangan teman saya Sofina, yang juga dinyatakan lolos administrasi. Kemudian kami masuk melihat tempat wawancara, khusus untuk UNS sendiri ada sekitar 25-an orang yang mendaftar, kebanyakan sudah mencoba tes IELSP beberapa kali dan kelihatan skill Bahsa Inggrisnya capcus semua. Kami ngobrol banyak dengan temen-temen dari UNS, sambil menunggu dipanggil satu per satu. Lama menunggu akhirnya saya dipanggil. Whoa, betapa nervous dan bercucurannya saya saat itu. Dengan mengambil dua-tiga nafas dalam, saya mantapkan diri untuk wawancara ini. Pewawancara saya adalah seorang Bapak separuh baya yang kelihatannya gimana gitu (I judge book its cover, sometimes :p). Beliau dengan suara pelan  mempersilakan saya duduk dan langsung membuka wawancara. Kemudian saya disuruh (dalam bahasa Indonesia) untuk menjelaskan mengenai diri pribadi saya,  saya sempat bertanya, “Dijawab dengan bahasa Inggris kah Pak?”. Dengan lugas Bapaknya menjawab, “Indonesia saja”. Batin saya, “ Wah kog dari awal aja udah gak enak gini, Bapaknya gimana gitu, terus gak dipersilakan pakai English lagi, mana AC nya dingin banget lagi, haha (iya, dari beberapa blog yang alumni IELSP yang saya baca, kebanyakan pada bercerita kalau pewawancaranya ramah2 semua gitu dan mempersilakan kita untuk menjawab dengan bahasa Indonesia atau English), Ya sudahlah, interview goes on dan saya mendapat beberapa pertanyaan yang berbeda dengan apa yang telah saya baca dari blog-blog alumni, ya saya ditanyain SPP saya berapa, bayar sendiri atau ndak, dah pernah kerja belum, dsb. Sempat bingung dan bertanya, kapan mau disinggung ni apa yang ada di essai dan biodataku? Lama setelah beberapa pertanyaan yang menurut saya OOT, barulah saya ditanya mengenai kuliah, kegiatan organisasi dan sebagainya. Kebanyakan saya bercerita mengenai aktivitas saya di BEM, pengalaman saya menjadi ketua panitia kegiatan besar, phylanthropic activities saya, dsb. Setelah cukup lama, beliau mencukupkan wawancara, kemudian beliau menyuruh saya mengambil gulungan kertas undian, saya ambil satu, dan dapat “HOME”. Saya disuruh menyampaikan apa yang ada dipikiran saya mengenai topik itu dengan bahasa Inggris. Jdueerrrrrrrrrrrrr, saya bingung, sempat berpikir beberapa saat dan terbata-bata pada beberapa bagian, akhirnya saya jawablah pertanyaan tersebut dengan jawaban yang intinya, “Home. It’s not about where you live. It’s about being together with people you love”. Wis lah gak tau gimana belepotan grammar saya, saya go on terus. Sekian menit, beliau menyudahi wawancara dan mengucapkan terimakasih. Saya ucapkan terimakasih kembali dan menjabat tangan beliau.

Legaaaaaa, tapi sebel, saya nilai wawancara saya kurang sukses, pertanyaannya aneh, gak sesuai dengan apa yang telah diceritakan alumni, terus Bapaknya suaranya pelan, sehingga saya harus sering-sering bertanya kembali apa pertanyaannya, dan macem-macem. Diluar sambil menunggu Sofina yang telah masuk, dengan segala keluh kesah, saya telpon Ibu dan bilang, “ Dah Bu, aku dah selesai, tapi wis ndak usah ngarep apa-apa. Wawancaranya aneh”. Si Ibu tetep dengan riang mendengarkan kesah-serapah saya dan bilang, “Ya udah tha ndak apa, namanya juga bersaing, yang penting usaha, aja bilang Bapak yo tapi ne. Wis ndang ke kost-an Adik. Ayo maem mbi dolan.”. Aww Mom, you are the greatest. Selesai telepon, saya mendengar suara Sofina yang lantang masih menjelaskan mengenai Desa Siaga BEM FK UNS, “ yah tentunya dia lagi disuruh njelasin pengalaman seperti saya tadi memakai bahasa Inggris”. Tak lama kemudian, Sofina keluar dan kami bertukar cerita, Sempat mengiyakan tentang anehnya wawancara kita tapi menolak saran saya untuk komplain ke IIEF, Sofina bilang, “Ya udahlah, apapun hasilnya”. Kemudian kami berpisah dan saya kembali ke kost Adek. Tanpa memikirkan wawancara hari itu, saya nikmati maen di Jogja dengan keluarga. Senengnyaaa………….

Dan sebulanan setelah wawancara waktu saya lagi mengajar di Lab Farmakologi FK UNS (saya asisten Farmakologi lhoh ;p *pamer*), ada no Jakarta masuk. Saya angkat dan terdengar suara halus seorang wanita menyapa, kemudian menanyai saya kapan saya ujian skripsi dan wisuda. Saya jelaskan kalau ujian dan wisuda di FK berbeda dengan fakultas lain, dimana 3,5 tahun adalah masa pre-klinik dan 1,5 tahun masa klinik dan semester 6-7 mahasiswa diberikan kesempatan untuk menyelesaikan skripsinya walaupun wisuda masih akhir semester7). Pembicaraan terus berlangsung, saking asyik dan senengnya saya, saya tak tau sedang bicara dengan siapa saat itu *maaf Mbak. Kemudian setelah, “interogasi” akhirnya si Mbak bilang, “selamat ya Wildan, anda terpilih menjadi grantee IELSP Cohort9”. Woooooowwwwwwwwwwwwwwww, saya bener-bener ndak nyangka, terlepas dari wawancara saya yang amburadul masih saja Allah memberikan rahmat bagi saya. Saya ucapkan terimakasih ke Mbaknya dan mengungkapkan betapa excited-nya saya. Kemudian saya diinstruksikan segera membuat paspor dan sebagainya. Saya catat dan pembicaraan pun diakhirkan. Tertegun di ruang asisten Lab Farmakologi, saya menunduk, leleh air mata saya. Terimakasih Ya Rabb. Sekali lagi hal ini menunjukkan bahwasanya, Dia-lah Sang Maha Kuasa yang bekerja dengan Maha Sempurna lepas dari semua prasangka “No Me Gusta” makhluknya. Bersyukurlah dan hanya meminta kepada-Nya. Amin.

next-on-wildansf@wordpress.com: Arizona-esque

Ps: Setelah saya usut, kebanyakan hasil seleksi beasiswa akan memakai biodata dan list pengalaman kamu  dalam berorganisasi (Thank you, BEM FK UNS, Kastrat De Geneeskunde FK UNS, LKMI, AMSA) dan berkarya (entah itu essai, karya ilmiah, dsb) untuk menentukan keputusan daripada sekadar IPK dan kemampuan akademik yang tertulis, so mari perkaya diri kita dengan segala pengalaman. Trust me, it works this way 😉

The Long Winding Road to be An IELSP Grantee Cohort 9 Part I: The Beginning and Thank God!

Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam yang Telah Memberkahi dan Menyayangiku sepenuhnya – Syukurku atas ter-awarded-nya aku sebagai salah satu grantee program IELSP – Indonesia English Language Study Program dari IIEF _ Indonesian International Education Foundation.

Tak terasa sudah Mei 2011, insyaallah 5 bulan lagi aku akan berangkat ke Arizona State University, Arizona, Amerika Serikat. Perasaan masih kebayang banget kemarin muter-muter malem-malem cari travel agensi bareng temanku berkeliling Surakarta, perasaan juga baru kemarin interview-nya. Wow, It’s just lingering that much in this old noodle!

Jadi dulu saya tahu program ini dari mading fakultas – bukan mading purba zaman Jurassic yak, eh ndak juga ding,  sebelumnya udah tau sih dari internet, tapi baru sreg niat ya setelah liat yang di mading ini. Uhm, excited notog njedog saya putuskan buat ikutan daftar audisi. Menginginkan ke-hebring-an tentunya saya ajak-ajak temen tapi apa daya saking super-fully-booked-nya anak semester 5 PD FK UNS, yang bisa nyempetin waktu buat ngisi macem-macem aplikasi kog ya cuma saya dan satu temen cewek saya yang luar biasa awesome di all-whole-fields – dialah Sofina Kusnadi yang nantinya (red; sekarang) beneran jadi grantee IELSP sama aku (Inget nggak Sofi, kalau kita kemarin kita nelat ngirim aplikasinya, nelat tes TOEFL-nya, dll – pertanda apa? Bahwasanya yang di-Atas beneran sayang dan memang menuliskan ini untuk kita). BTW, apaan sih IELSP? Lebih jelasnya saya akan tuliskan mengenai apa itu IELSP dan sekitarnya yang bisa anda baca dengan seksama dalam sesi lain dalam kategori “Fellowships” 🙂 Bonne Chance, Monsieur un Mademoiselle! 🙂

Deadline pengumpulan aplikasi tanggal 10 Januari 2011, dan saya dengan nistanya tanggal 8-nya masih nulis-nulis biodata doank. Essai yang segambreng belum kepegang, suruh nulis macem-macem: all-about-me-and-family, motivation-letter, most-depressing-issues-faced-by-our-country, future-me, etc –  jadilah saya menulis essai disambi kuliah (kuliahnya ngalah wis), disela-sela rapat kerja anak-anak BEM FK UNS kabinet BERSINAR sambil presentasi progker (red: kebeneran saya jadi kepala Departemen di BEM – nah,  kata beberapa literatur artikel yang saya baca, aktif di kegiatan kemahasiswaan beginian sangatlah menunjang dalam memenangkan beasiswa) sambil maem siang di warung 24 jam yang diasuh Mas-Mas dari tanah Pasundan yang tiap kali ngomong se-Sunda-an sama temennya saya selalu terkikik kecil, yah maklumlah kalau essainya semrawut, tanpa proofreading pula, coba dah nanti saya post beberapa, penasaran mau ngecek betapa banyaknya insanely-ambiguously-words-which-is-arranged-in-to-grammatically-ANCUR-sentences. Aww, who cares. Belum lagi lengkapin arsip-arsip (KTP dimana; student card nang ndi; iki piye; naon atuhrempong abis dah – belum lagi minta referensi dosen, temen bule, guru SMA – untung yak beliau-beliau berhati platinum gitu, kog ya mau-maunya dikontak last minute cuma buatin gituan, hehe, makasih Dokter Haf, Mas Brian Lee Baetz dan Pak Imron, you guys rock! ).

Malam tanggal 9, insyaallah lengkap, tapi yo Wil, nek jam 21.00 WIB ya udah gak ada lah agensi yang mau nganter, muter-muterlah saya dan Sofina ditengah hujan lebat nan sakit ketika menghunjam wajah. Arah pun dibagi, Sofi ke kota bagian barat, saya ke timur. Pukul 22.30: NIHIL. Ya udahlah, saya ketemuan Sofi di deket Terminal Bus Tirtonadi. Sofi bilang kalau dikirim aja besok pake kargo pesawat yang jelas sampainya coz express cuma 2 jam SKA-JKT yang dengan bijaknya saya bilang, “Sudah, dikirim aja besok pakai pos kilat, insyaallah kalau memang jodoh, insyaallah dapet” dan Sofi pun mengirimkannya kesokan paginya (saya cuma habis 17rb, Sofi 3 kali lipatnya coz file-file penunjangnya maut dah *piss )

Berselang 11 hari, barulah kita tes TOEFL (kita cuma notif IIEF sebelumnya, bahwasanya kita baru bisa tes tanggal segitu, insyaallah IIEF mengerti kog *sok teu dah). Tes-nya di UPT2B UNS, yang menurut admin IIEF yang saya email telah tersertifikasi. Jadi dah tes jam 19, sampai sana banyak juga yang tes, kebanyakan Bapak Ibu gitu – buat syarat naek pangkat kali, hehe. Tes-nya di-air-conditioned-and-fully-isolated-room gitu yang AC-nya disetel super cold (brrr, gak bawa jaket). Listening: uhm, kinda nailed-it pas short conversation, longer-conversation mah agak buyar. Grammar: mikiiiiiiiirrr, tapi, tapi.. ya wis lah. Reading: beuh, teks-nya Mas Mbak a la master, sulit dimengerti, waktunya mepet banget, tapi ya udah lah. Hope for the best. Say that I can reach 500. Selesai, ngobrol sama Sofi dan pulang, tertidurlah saya malam itu kebawa mimpi sampai ke Saturnus (mungkin efek reading section mengenai planets and spaceship yang njlimet puolll, hahaha).

Lama ndak ada kabar, 2-3 mingguan setelah deadline, saya dapet missed-call di suatu sore sebelum saya pulang kampung, kode wilayah jakarta, wah wah, IELSP ini, dan memang bener, saya telepon balik dan memang karena sudah sore, mungkin kantor sudah tutup dan ndak ada yang jawab. Ya sudahlah.

Keseokan hari, saya was-was, kenapa saya tidak kunjung ditelepon lagi, di FB sudah banyak yang bilang telah ditelpon untuk wawancara, cuma pada bilang kalau diteleponnya gradual gitu. Hell, screw FB, padahal saya mau pulang kampung, bingungnya saya tuh kalo di kampung ndak terjangkau provider saya, bagaimana saya bisa tau, wong sinyal aja gak berdaya merayap sampai kampung saya, huh. Lanjut berdoa, kemudian sore pukul 14.30an, ada call dari no wilayah Jakarta lagi – yang memberitahukan saya lolos ke tahap wawancara. Amin ya Allah, dengan leganya saya bisa pulang kampung dan menyampaikan kabar gembira kepada keluarga. I did happy.

Uhm kembali ke interview, wawancara saya kalau tidak salah tanggal 5 Februari 2011 di Universitas Sanata Darma, Jogjakarta. Saya masih di kampung tuh tanggal 4-nya. Tanggal 5 pagi-nya barulah meluncur ke Jogja. Dari tahap wawancara inilah yang paling berkesan, dimana tidak ada yang tahu nasib akan membawamu kemana, cukuplah sebagai makhluk kamu yakin atas apa yang digariskan Sang Kholiq untukmu, karena seperti apapun itu, jelaslah, Allah tau yang terbaik untukmu. Sekian dulu, bersambung yak ke “The Long Winding Road to be An IELSP Grantee Cohort 9 Part II: Hell, No Me Gusta!)” yak, yang pastinya ceritanya lebih complicated se-complicated-nya cerita sinetron Indonesia *apa sih, lebay dah, hahaha Bye!

Night of Awakening

Ehm, ndak bisa tidur, pikiran kemana-mana, kog tiba-tibanya ingat kalau tadi habis Maghrib belum sempet mengaji seperti apa yang telah dititahkan Ibu waktu sms di malam sebelumnya. Tertegun, memang yak, sudah cukup lama aku tak memanjangkan doa, nambah bersyukur, dan memanjangkan waktu baca Qur’an. Kalau diingat-ingat, memang aku dzalim banget kepada-Nya akhir-akhir ini . Hasbii rabbi Jallallah. Ma fi qolbiy ghoirullah. Allah sudah memenuhi segala kebutuhanku. Allah paling tahu apa yang terbaik bagiku, tapi bisa-bisanya aku begini ya? Menengok ke belakang, apa yang dikatakan Ibu-ku memang benar adanya, “Nak, kalau syukur dan doamu kurang, ya sulit nho kabulnya pepenginmu”. Aku kurang berdoa dan bersyukur. Kalau ditilik, mungkin dari sini asalnya mengapa hidupku jadi semakin aneh akhir-akhir ini. Urusan kuliah agak kacau, skripsi pun baru kepegang, urusan organisasi di kampus agak tertinggal, orang yang aku sayangi menjauh, temen-temen mempertanyakan, dan pikiranku semakin ruwet. Berkali-kali aku harus menunda dan merevisi deadlineku sendiri…. Malam ini sunyi, sepoi – aku malu. Mataku mbrambang – terimakasih, mungkin dari sinilah Rabb mengingatkanku untuk segera kembali. Wake up, Will!

Night of Awakening

15 Mei 2011

Hello world! I am Wildan_

First time experience to make this kind of blog. First time experience to write well-organized. First time to make camaraderie this way. So, Hello world! I am Wildan_ Hola mi amigo 🙂